gemini PRO:Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah ke 77-78
Barakallahu fiikum, ya Akhi/Ukhti. Semoga Allah memudahkan ujian HSI Anda dan memberikan pemahaman yang mendalam.
Berdasarkan teks materi Halaqah 77 (Silsilah ‘Ilmiyyah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah) yang Anda bagikan, berikut adalah rangkuman poin-poin penting yang biasanya muncul dalam evaluasi harian:
. Dalil dari Surat Fatir Ayat 10
Ayat: “Ilayhi yash’adul kalimut-thayyibu wal ‘amalush-shalihu yarfa’uh”
Makna Yash'adu: Artinya "naik". Ucapan yang baik (dzikir, tilawah, doa) naik kepada Allah. Ini menunjukkan Allah berada di atas.
Makna Yarfa'uhu: Allah mengangkat amal shalih.
Syarat Amal Diterima: Amal yang diangkat adalah amal yang ikhlas dan sesuai sunnah (mutaba'ah).
2. Kisah Fir’aun dan Haman (Surat Ghafir/Al-Mu’min: 36-37)
Perintah Fir’aun: Meminta Haman membangun Sash-han (bangunan tinggi/menara) untuk mencari jalan ke langit agar bisa melihat Tuhan Nabi Musa.
Kesimpulan Akidah:
Nabi Musa 'alaihissalam: Meyakini Allah berada di atas (Al-'Uluw).
Fir'aun: Mengingkari ketinggian Allah dan menuduh Nabi Musa berdusta.
Istilah Penting:
Orang yang mengingkari sifat Al-'Uluw disebut Fir'auniy.
Orang yang meyakini Allah di atas disebut Musawiyyun Muhammadiyyun.
3. Makna "Man fis-Sama'" (Surat Al-Mulk: 16-17)
Terdapat dua cara memahami kalimat “Dzat yang berada di langit”:
Opsi A: As-Sama' bermakna Al-'Uluw (Ketinggian).
Jadi, artinya: "Dzat yang berada di ketinggian."
Opsi B: Kata depan Fi bermakna 'Ala (Di atas).
Jadi, artinya: "Dzat yang berada di atas langit."
Contoh kaidah bahasa: Dalam Al-Qur'an, Fi sering bermakna 'Ala, seperti dalam kalimat "fisiihu fil ardhi" (berjalanlah di atas permukaan bumi) atau ucapan Fir'aun "fii judzuu'in nakhli" (di atas batang kurma).
4. Sifat Allah dalam Ayat Tersebut
Al-'Uluw: Allah Maha Tinggi secara Dzat maupun Sifat.
Ancaman Allah: Allah berkuasa mengirimkan azab berupa bumi yang berguncang (tamuur) atau angin keras pembawa kerikil (haashiban).
Poin Utama Halaqah 78
1. Mengapa Ma’iyyah Dibahas Setelah Al-’Uluw?
Untuk membantah syubhat sebagian orang yang menganggap jika Allah di atas, berarti Allah tidak bersama makhluk-Nya.
Ahlus Sunnah meyakini Allah Maha Tinggi di atas Arsy, namun Allah tetap bersama makhluk-Nya dengan Ilmu-Nya.
2. Dalil Utama (Surat Al-Hadid: 4)
“Huwalladzii khalaqas-samaawaati wal ardha fii sittati ayyaamin tsummastawaa ‘alal ‘arsy...” (Allah menciptakan langit bumi, lalu beristiwa di atas Arsy).
“...Wahuwa ma’akum aina maa kuntum...” (Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada).
3. Hakikat Ma’iyyah (Kebersamaan) dalam Ayat Ini
Ma'iyyah dalam ayat ini adalah Ma’iyyatul ‘Ilm (Kebersamaan secara Ilmu).
Konteks Ayat: Sebelum kalimat "Dia bersama kalian", Allah menyebutkan bahwa Dia mengetahui apa yang masuk ke bumi, keluar dari bumi, turun dari langit, dan naik ke langit. Ini menunjukkan kebersamaan yang dimaksud adalah Allah Maha Mengetahui segalanya.
Bantahan untuk Paham Pantheisme (Allah di mana-mana): Ahlus Sunnah menegaskan Allah tidak bercampur dengan makhluk. Mengatakan Allah "bersama" tidak harus berarti bercampur/menyatu secara fisik.
4. Kaidah Bahasa Arab tentang Al-Ma’iyyah
Dalam bahasa Arab, Ma’iyyah (kebersamaan) artinya adalah Muthlaqun Musahabah (kebersamaan secara mutlak/kedekatan), tidak harus bercampur (mukholathoh).
Contoh 1: "Ali dan Zaid datang bersamaan." (Bisa jadi jaraknya 2 meter, tidak harus menempel).
Contoh 2: "Kami berjalan di malam hari dan bulan bersama kami." (Maksudnya cahaya bulan menemani/menerangi mereka di mana pun mereka berada, padahal bulan tetap berada di atas langit). Begitu pula Allah, Dia di atas Arsy namun Ilmu dan Pengawasan-Nya meliputi makhluk-Nya di mana pun mereka berada.
5. Kesimpulan Akidah
Tidak ada pertentangan antara Allah beristiwa di atas Arsy dengan Allah bersama makhluk-Nya.
Allah Maha Tinggi, namun tidak ada satu pun urusan makhluk yang samar bagi-Nya. Allah melihat dan mengetahui segala amal perbuatan hamba-Nya (Wallaahu bimaa ta’maluuna bashiir).
Komentar
Posting Komentar